7 Mei 2011

dua jam yang sangat berharga..

hampir sembilan belas tahun sudah menghirup udara di dunia ini...banyak sekali nikmat yang telah dianugrahkan Tuhan kepadaku. mulai dari hal hal yang mungkin sering tak kita sadari hingga hal hal yang really wonderful in my life.....tapi keluhan, keinginan untuk mendapatkan lebih dan lebih lagi selalu mengiringi langkah langkahku hari demi hari....

bersyukur. kata itu sangat sering masuk ke dalam telinga namun hanya mampir sebentar saja dalam hati ini dan tidak pernah mau menempel agak lama walau hanya sedikit saja....

cerita tentang keadaan sekitar, cerita memilukan, cerita orang orang yang tidak seberuntung kita, hanya mampu mengetuk hati ini saat itu saja,sedangkan selebihnya....ya...akan kembali mengeluh...mengeluh...dan mengeluh menuntut kesempurnaan nikmat....*mungkin karena itulah sifat dasar manusia...tidak pernah merasa cukup....

tapi dua jam pada hari Sabtu, 7 Mei 2011 @Yayasan Sayap Ibu Bintaro... ternyata mampu membuat kata "bersyukur" lebih merekat dalam hati....

bagaimana tidak.....segala sesuatu tentang orang orang yang kurang beruntung yang awalnya hanya aku dengar dari mulut ke mulut,dari tulisan, dari berita,dari foto........pada hari itu mataku sungguh melihat secara langsung, tanganku menyentuh dan membelainya, hatiku merasakan, telingaku mendengarnya dengan jelas, aku sungguh sungguh berinteraksi secara langsung....

ya....adek adek yang seharusnya masih mempunyai masa depan yang panjang, untuk hidupnya saat ini saja mereka harus berjuang keras dengan segala kekurangan mereka.

beberapa adek menderita cerebral palsy, kelumpuhan otak yang membuat mereka tidak bisa untuk berkomunikasi, bahkan untuk bangun dari tempat tidurnya saja mereka tidak mampu. ada juga yang selain menderita cerebral palsy,ia juga mengalami penyempitan saluran pernafasan. tiap hembusan nafasnya mengeluarkan bunyi yang akan membuat kita bertambah miris.

hidrosefalus.yang terus terbayang dalam benak saya adalah Berty,berusia 8 tahun yang pada awalnya saya mengira bahwa dia masih balita. kepalanya sudah sangat besar. bahkan untuk sedikit menggerakkan atau mengangkat kepalanya saja dia tak mampu. ketika saya tanya kepada perawat apakah tidak bisa dioperasi, perawat menjawab tidak bisa karena bagian kepalanya masih banyak yang lunak seperti bayi. sungguh sangat sedih mendengarnya...

microsefalus. adek adek yang menderita penyakit ini badannya mengalami pertumbuhan secara normal namun bagian kepalanya tetap kecil tanpa mengalami pertumbuhan..

autis. yang masih melekat dalam ingatan saya ada 2 adek yang menderita autis. yang satu cewek sangat hiperaktif tapi dia juga cantik...gerakannya lincah dan semangat sekali namun dia seperti berada di dunianya sendiri. untuk bisa berjabat tangan dengannya saja harus menunggu agak lama hingga dia menyadarinya dan setelah itu dia kembali tenggelam dalam dunianya lagi. yang kedua, dy cowok. tatapan matanya tajam. ketika saya datang menghampirinya, tatapan matanya yang tajam itu langsung menyambut saya dan dy lama sekali tidak melepaskan pandangannya sampai sampai saya sempat merasa takut. tapi rasa sayang menutupi takut itu....saya balas pandangan itu dengan tatapan hangat dan sayang hingga akhirnya dia mau mengulurkan tangannya untuk memegang tangan saya..

downsyndrom. penderita mengalami keterbelakangan pertumbuhan mental dan fisik.

ada juga lumpuh layuh, mereka hanya bisa terbaring dan dengan rutin menjalani terapi untuk perawatan namun bukan untuk penyembuhan. karena kebanyakan anggota panti mengalami cacat permanen..

yang saya tidak habis pikir, dalam wajah mereka tersungging senyum yang tulus dan seakan akan mereka berkata"kami tidak apa2 kak, kami baik baik saja. lihatlah kami, kami masih bisa tersenyum." tidak ada keluhn yang kami lihat ada pada mereka.

hati terasa tercabik cabik melihatnya, malu langsung menggelayuti diri ini. lalu....selama ini...sbnarnya apa yang kurang dari nikmat Allah sehingga untuk bersyukur saja lupa dan keluhan selalu keluar dari bibir ini. astagfirullah...

di lain sisi, pikiran saya kemudian melayang...dimana orang tua mereka???apa mereka tidak sadar dengan anugrah Tuhan berupa anak yang luar biasa yang diberikan kepada mereka meski dengan segala kekurangannya??

pertanyaan pun kemudian terlontar kepada mbak mbak perawat,"kemana orang tua mereka,mbak?" dan sungguh mengejutkan. hati saya harus menerima cabikan yang lebih menyakitkan mendengar jawaban mbak perawat.

"mereka umumnya dianggap aib. ada yang kami temukan di tol, ditinggal di taksi,ditinggal di rumah sakit, atau diantar langsung oleh orang tuanya dan orang tuanya itu mengatakan bahwa anaknya adalah aib keluarga, bahkan ada juga yang kami temukan di pemakaman umum dengan keadaan mata telah dikerubungi semut.." Astagfirullah......

seakan akan tangis ingin sekali meledak mendengar semua itu, namun tertahan semua di pelupuk mata. bagaimana bisa tangisku pecah kalau aku mengingat senyum wajah adek adek yang tanpa dosa itu, mengingat mbak mbak perawat yang dengan ikhlas dan sabar merawat mereka.....kalau tangisku meledak pasti tidak akan lagi kulihat senyuman senyuman manis itu...

speechless. hanya itu. hanya itu yang saya rasakan saat itu. dan sekarang saya hanya bisa berkata, "sabar ya adek adekku sayang......walaupun orang tua kalian tidak menerima kalian, masih banyak orang orang yang sayang kalian, dan percayalah Allah tidak akan memberikan sesuatu yang tidak seimbang....kalau kalian mempunyai kekurangan yang lebih dari kami, pastinya Allah juga memberikan kelebihan yang lebih juga pada kalian......semangat ya adek adekku sayang... :D "

meski hanya dua jam,,,tapi sungguh pelajaran yang luar biasa....

15 Apr 2011

koran sebagai penyalur aspirasi pemuda untuk perubahan

Satu pemuda dapat mengubah sebuah negara, berikan saya 10 pemuda – maka saya bersama mereka akan mengubah dunia. Karena pemuda memiliki kreativitas, semangat, dan ketidakpuasan yang tak terkalahkan dan berfungsi sebagai faktor revolusi seluruh dunia,” – Soekarno (Presiden Negara Republik Indonesia Pertama)

Koran. Mungkin kita sudah akrab dengan media cetak yang satu ini. Namun, di dalam pikiran kita pasti kemudian terbersit bahwa media cetak yang satu ini sudah ketinggalan zaman atau kuno. Di tengah aktivitas kita yang sangat banyak setiap harinya tentu membaca koran sebuah hal yang sulit dilakukan karena membutuhkan banyak waktu. Kemudian kita akan lebih memilih televisi yang tidak membutuhkan banyak waktu.

Namun apakah ada yang menyangka bahwa antara koran dan televisi adalah tidak sama? Dengan koran, kita akan lebih banyak berpikir dan mencerna sebuah permasalahan dengan logika kita, karena di sini kita hanya dihadapkan dengan tulisan dan kemudian pikiranlah yang akan mencernanya sehingga pada akhirnya kita lebih objektif dalam menilai berita yang disampaikan. Sedangkan bila kita melihat televisi, pasti kita akan melihat tayangan tayangan yang membuat emosi kita lebih cepat dalam mengambil respon daripada pikiran kita. Akibatnya penilaian kita menjadi subjektif.

Padahal kita sebagai pemuda yang diharapkan dapat membawa perubahan ke arah yang lebih baik perlu memandang suatu permasalahan dengan objektif dan tidak mengedepankan emosi. Di sinilah koran turut andil sebagai suatu instrument bagi para pemuda terutama mahasiswa, para agen perubahan. Tidak hanya sebagai penyalur berita untuk masyarakat luas namun juga menjadi sarana untuk menyalurkan aspirasi, opini, dan pemikiran untuk masa depan yang lebih baik.

Sayangnya karena globalisasi dan kemajuan teknologi, pemuda pemuda yang diharapkan dapat membawa perubahan ke arah yang lebih baik sekarang justru menambah masalah negeri ini dengan meluasnya pergaulan bebas, game dan teknologi yang tidak mendidik yang malah memupuk individualisme, serta hal hal lain yang dilakukan para pemuda yang sama sekali tidak membawa perubahan sedikitpun untuk menjadi lebih baik.

Di sisi lain, antusiasme pemuda terutama mahasiswa dalam menggunakan koran sebagai sarana penyaluran opini, aspirasi, dan pemikiran masih sangat rendah. Hal ini tidak saya pungkiri, bahkan saya pun belum pernah menggunakan koran untuk penyaluran opini tersebut sekalipun.

Menurut saya, ini bukan masalah kemampuan tetapi masalah minat. Adanya teknologi baru yang lebih menarik minat mahasiswa dan era globalisasi telah menggeser koran di mata para mahasiswa. Sedangkan bila di lihat dari segi kemampuan, kemampuan mahasiswa dalam beropini tidak dapat diremehkan.

Di antara pemuda pemuda yang justru memperparah kebobrokan bangsa, masih banyak pemuda terutama dari kalangan mahasiswa yang peduli terhadap keadaan bangsa ini. Mereka membentuk suatu perkumpulan kemudian dengan rutin mendiskusikan permasalahan bangsa yang terjadi. Contohnya saja yang saya ketahui adalah Majelis Remaja Indonesia. Namun memang mereka tidak menggunakan koran sebagai media penyaluran ide melainkan facebook. Bahkan tidak hanya yang berada di dalam negeri.di luar negeri pun, Menurut salah seorang teman saya yang belajar di Erasmus Universiteit Rotterdam, di kota Rotterdam ada sebuah Perhimpunan Pelajar Indonesia yang sebulan sekali melakukan diskusi akademis mengenai masalah masalah yang terutama berkaitan dengan Indonesia dengan nama Indonesian Scholars Gathering.

Opini opini mereka tidak memandang pehimpunan itu di dalam atau di luar negeri intinya adalah sama yaitu untuk kemajuan bangsa. Dan opini opini yang ada adalah sangat luar biasa dan inspiratif untuk tercapainya kemajuan bangsa. Akan tetapi opini mereka belum banyak mengubah keadaan karena hanya kalangan kalangan tertentu saja yang mengetahui aspirasi atau opini mereka yang sangat luar biasa tersebut. Akan berbeda apabila mereka menggunakan koran sebagai sarana penyaluran. Tentunya semua kalangan masyarakat akan mengetahui dan kemudian akan dapat memberikan kontribusi yang lebih besar untuk perubahan yang lebih baik.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa para pemuda khususnya kalangan mahasiswa sebenarnya mampu beropini bahkan dapat dikatakan lebih dari mampu. Karena alasan kemajuan teknologilah, kontribusi mereka dalam beropini dalam koran masih sangat minim. Sebab opini opini mereka yang luar biasa, mereka salurkan melalui media yang lain yang lebih maju. Namun melihat fungsi koran yang dapat dijangkau oleh semua kalangan serta kemampuannya untuk mendorong pembaca lebih objektif dalam menilai suatu peristiwa, menurut saya penyaluran opini mahasiswa melalui koran perlu untuk lebih ditingkatkan agar dapat memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perubahan yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Seluruhnya dalam tulisan ini adalah opini saya berdasarkan kenyataan yang saya amati selama ini..